Senin, 20 Februari 2017

APAKAH ANDA SEORANG SANTRI?

 APAKAH ANDA SEORANG SANTRI ?

Bukankah di negara-negara yang sudah maju sekarang sudah tidak mutlak selalu mementingkan ijazah?, yang penting kenyataan prestasi kerjanya. Kita sendiri lebih percaya kepada seseorang yang walaupun tidak berijazah tetapi kerjanya bagus, daripada ijazahnya tinggi namun tidak ada kenyataan dalam pekerjaannya. Ijazah itu bisa dipalsukan orang, bisa dibuat satu atau setengah jam selesai. Lain halnya dengan “kemanfaatan” yang hanya Allah swt. Dapat membuatnya dan menganugerahkannya kepada siapa saja yang dikehendaki. Bukanlah mengejar sesuatu yang hanya bisa dibuat oleh Allah itu lebih bernilai tinggi daripada yang bisa dibuat manusia ?
Silahkan saudara menjawabnya!
Selaku santri, saudara tidak perlu ikut gusar dan bingung (gegana =galau gundah gulana) karena pengaruh gejolak sosial, budaya ataupun pola fikir (mindset) yang biasanya disebut modern. Tidak usah mengatakan saya termasuk santri modern , dia santri tradisionil dan lain sebagainya. Lebih jauh lagi mengklasifier si anu kyai modern, si anu kyai kolot, tradisionil dan segala macam prdikat (laqob) yang sering mengakibatkan perpecahan  di dalam tubuh pesantren sendiri. Tetapi saudara cukup tabahlah dan dan mantaplah bahwa dengan bekal kesantrian yang sempurna, cukuplah untuk menghadapi dan menyelesaikan segala masalah.
Ada sebuah kata mutiara atu kalam hikmah sebagai berikut:
Ajhalunnasi man taroka yaqiinama ‘indahu lidzonnima ‘indannaass.
“orang paling bodoh ialah yang meninggalkan keyakinan diri sendiri , karena mengira yang dilakukan orang lain lebih berarti”. (dikemukakan oleh Taa-juddin ‘Athooillaah Iskandariy di dalam kitabnya “Taa-jul ‘Aruus).
Santri adalah kader tunas pengganti kyai. Kyai adalah orang ‘alim (ulama) yang Allah menganugerahkan kemanfaatan pada ilmu beliau di dunia dan akhirat. Seseorang, sekalipun alim tidak dapat diangkat orang lain menjadi kyai, tetapi kyai itu diangkat oleh Allah swt. Dengan persyaratan terserah kehendaknya. Kyai itu dipimpin langsung oleh Allah dengan hidayahnya.
Dalam qiro’ah Syadzadzah dapat dibaca sbb:
“Allah takut hanya kepada hamba-hambanya yang alim (ulama)”
(surat 35, Faathir ayat 28, Juz 22).
Hal ini kemudian dimintakan penjelasan kepada sebagian ulama, dan jawabnya :
“benar kuagungkan engkau, dedang engkau sendiri tak punya kemampuan atasku. Namun mata selalu diliputi banyangan sang kekasih”. (syi’ir diucapkan oleh ibnu robbacch al-akbar).
Demikianlah, karena ulama menjadi kekasih Allah, maka diagungkan dalam hal itu, maka ditakuti pula. Jadi bukan ditakuti karena kuasa mamaksa Allah untuk melakukan sesuatu. Allah maha kuasa dan perkasa. (lihat dalam haasyiyatul khudloriy alabni ‘aqil, karangan asy-syaikh muhammad al-khudlory juz I).
Dengan demikian, sistem saudara menuntut ilmu juga tidak asal menuntut, asal mendapatkan dengansegala macam cara dengan tanpa memperhatikan melanggar agama islam atau tidak. Kitab ta’limul mutaalllim thoriqot ta’allaum sudah tidak asing lagi buat saudara, tinggal dapatkah menjalankan isinya?
Jawabnya di tangan anda sendiri.
Ada nasihat menarik yang saya kutip dari kitab mizanul amal karya abu hamid al ghozali , agar ilmu dari para pencari ilmu itu bermanfaat dunia dan akhirat:
·         Buang jauh akhlaq tercela, hiasi diri dengan akhlaq mulia, dan sucikan jiwa dari segala macam yang dosa.
·         Jangan dalam-dalam berkecimpung di tengah urusan harta dunia. Lebih-lebih jika dalam menuntut ilmu agama islam itu berniat sesuatu harta dunia. Ilmu pengetahuan yang bisa dipelajari akal fikiran itu ada dua, pengetahuan agama dan pengetahuan harta dunia. Keduanyaibarat jalan raya membentang ke arah timur yang satunya ke barat. Bisakah berjalan ke timur sampai ke barat, berjalan ke barat sampai di timur atau sekali berjalan sampai di timur dan juga barat? Pada umumnya tidak bisa. Tetapi kalau berjalan ke barat sebagai sarana untuk mendapatkan yang di timur atau sebaliknya, mungkan juga bisa ditempuh.
·         Buang jauh jauh rasa “sudah pandai” dan “lebih mengetahui” daripada sang guru”
·         Jangan meremehkan suatu bidang ilmu pengetahuan. Sebabilmu itu saling berkait, bersambung dan menjelaskan.
·         Urutkan ketertiban belajar. Mula mula yangterpenting , setelah bisa baru yang nomor dua, nomor tiga dan seterusnya. Jangan dengan serta-merta seluruh pengetahuan akan ditelan sekaligus.
·         Menuntut ilmu bertujuan untuk dapat hidup di dunia dengan diri sempurna yang berbudi utama, sedang di akhirat mendapat ridlo Allah ta’ala.

0 komentar:

Posting Komentar