APAKAH ANDA SEORANG SANTRI ?
Bukankah di
negara-negara yang sudah maju sekarang sudah tidak mutlak selalu mementingkan
ijazah?, yang penting kenyataan prestasi kerjanya. Kita sendiri lebih percaya
kepada seseorang yang walaupun tidak berijazah tetapi kerjanya bagus, daripada
ijazahnya tinggi namun tidak ada kenyataan dalam pekerjaannya. Ijazah itu bisa
dipalsukan orang, bisa dibuat satu atau setengah jam selesai. Lain halnya
dengan “kemanfaatan” yang hanya Allah swt. Dapat membuatnya dan
menganugerahkannya kepada siapa saja yang dikehendaki. Bukanlah mengejar
sesuatu yang hanya bisa dibuat oleh Allah itu lebih bernilai tinggi daripada
yang bisa dibuat manusia ?
Silahkan saudara
menjawabnya!
Selaku santri,
saudara tidak perlu ikut gusar dan bingung (gegana =galau gundah gulana) karena
pengaruh gejolak sosial, budaya ataupun pola fikir (mindset) yang biasanya
disebut modern. Tidak usah mengatakan saya termasuk santri modern , dia santri
tradisionil dan lain sebagainya. Lebih jauh lagi mengklasifier si anu kyai
modern, si anu kyai kolot, tradisionil dan segala macam prdikat (laqob) yang
sering mengakibatkan perpecahan di dalam
tubuh pesantren sendiri. Tetapi saudara cukup tabahlah dan dan mantaplah bahwa
dengan bekal kesantrian yang sempurna, cukuplah untuk menghadapi dan
menyelesaikan segala masalah.
Ada sebuah kata
mutiara atu kalam hikmah sebagai berikut:
Ajhalunnasi
man taroka yaqiinama ‘indahu lidzonnima ‘indannaass.
“orang
paling bodoh ialah yang meninggalkan keyakinan diri sendiri , karena mengira
yang dilakukan orang lain lebih berarti”. (dikemukakan oleh Taa-juddin
‘Athooillaah Iskandariy di dalam kitabnya “Taa-jul ‘Aruus).
Santri adalah
kader tunas pengganti kyai. Kyai adalah orang ‘alim (ulama) yang Allah menganugerahkan
kemanfaatan pada ilmu beliau di dunia dan akhirat. Seseorang, sekalipun alim
tidak dapat diangkat orang lain menjadi kyai, tetapi kyai itu diangkat oleh Allah
swt. Dengan persyaratan terserah kehendaknya. Kyai itu dipimpin langsung oleh Allah
dengan hidayahnya.
Dalam
qiro’ah Syadzadzah dapat dibaca sbb:
“Allah
takut hanya kepada hamba-hambanya yang alim (ulama)”
(surat 35,
Faathir ayat 28, Juz 22).
Hal ini
kemudian dimintakan penjelasan kepada sebagian ulama, dan jawabnya :
“benar
kuagungkan engkau, dedang engkau sendiri tak punya kemampuan atasku. Namun mata
selalu diliputi banyangan sang kekasih”. (syi’ir diucapkan oleh ibnu robbacch
al-akbar).
Demikianlah,
karena ulama menjadi kekasih Allah, maka diagungkan dalam hal itu, maka
ditakuti pula. Jadi bukan ditakuti karena kuasa mamaksa Allah untuk melakukan
sesuatu. Allah maha kuasa dan perkasa. (lihat dalam haasyiyatul khudloriy
alabni ‘aqil, karangan asy-syaikh muhammad al-khudlory juz I).
Dengan
demikian, sistem saudara menuntut ilmu juga tidak asal menuntut, asal
mendapatkan dengansegala macam cara dengan tanpa memperhatikan melanggar agama
islam atau tidak. Kitab ta’limul mutaalllim thoriqot ta’allaum sudah tidak
asing lagi buat saudara, tinggal dapatkah menjalankan isinya?
Jawabnya di
tangan anda sendiri.
Ada nasihat
menarik yang saya kutip dari kitab mizanul amal karya abu hamid al ghozali ,
agar ilmu dari para pencari ilmu itu bermanfaat dunia dan akhirat:
·
Buang jauh akhlaq tercela, hiasi
diri dengan akhlaq mulia, dan sucikan jiwa dari segala macam yang dosa.
·
Jangan dalam-dalam berkecimpung di
tengah urusan harta dunia. Lebih-lebih jika dalam menuntut ilmu agama islam itu
berniat sesuatu harta dunia. Ilmu pengetahuan yang bisa dipelajari akal fikiran
itu ada dua, pengetahuan agama dan pengetahuan harta dunia. Keduanyaibarat
jalan raya membentang ke arah timur yang satunya ke barat. Bisakah berjalan ke
timur sampai ke barat, berjalan ke barat sampai di timur atau sekali berjalan
sampai di timur dan juga barat? Pada umumnya tidak bisa. Tetapi kalau berjalan
ke barat sebagai sarana untuk mendapatkan yang di timur atau sebaliknya,
mungkan juga bisa ditempuh.
·
Buang jauh jauh rasa “sudah
pandai” dan “lebih mengetahui” daripada sang guru”
·
Jangan meremehkan suatu bidang
ilmu pengetahuan. Sebabilmu itu saling berkait, bersambung dan menjelaskan.
·
Urutkan ketertiban belajar. Mula
mula yangterpenting , setelah bisa baru yang nomor dua, nomor tiga dan
seterusnya. Jangan dengan serta-merta seluruh pengetahuan akan ditelan
sekaligus.
·
Menuntut ilmu bertujuan untuk
dapat hidup di dunia dengan diri sempurna yang berbudi utama, sedang di akhirat
mendapat ridlo Allah ta’ala.






0 komentar:
Posting Komentar