Tahun 2004
Aku telah diwisuda di tingkat SMU. dan disini timbul pertanyaan besar. dimana aku harus meneruskan belajarku. ada dua kemungkinan yang akan aku ambil. pertama aku akan ambil kuliah di IAIN Tulungagung. dan yang kedua, aku akan meneruskan belajar bahasa Inggris di BEC (Basic English Course) Pare kediri Jawa timur.
dan akhirnya setelah merenung beberapa waktu aku berhasrat kuat untuk meneruskan belajar Bahasa Inggris Di BEC, sebenarnya bukan tujuan utama, hal itu lebih dikarenakan untuk masuk ke IAIN Tulungagung pada waktu itu biaya tidak cukup. kambing dua yang dimiliki orangtuaku dan hanya itulah harta yang bisa kumiliki, tidaklah cukup untuk daftar. hmmmm, memang itulah mungkin ujianku dalam mencari ilmu. ya sudahlah, akhirnya aku putar niatku dan aku punya keyakinan dalam hati, mungkin sekarang aku belum bisa, tapi Insyaallah tahun depan aku bisa. dengan bacaan bismillah yang mantap aku akhirnya belajar di BEC.
Namun ternyata ujian demi ujian belum juga selesai. secara sembunyi-sembunyi aku daftar bersama temanku yang telah menjadi temanku sejak TK sampai tamat SMU. kenapa harus dengan cara sembunyi? sebab teman abahku telah mengopor-ngompori bahwa buat apa belajar Bahasa Inggris sampai di BEC Pare kediri, toh di Tulungagung juga sudah ada. tidak kalah bagusnya kalo cuman tentang kursusan bahasa Inggris. tapi entah kenapa hatiku menolak ketika disuruh meneruskan di tulungagung. hatiku sudah bulat bahwa aku harus meneruskan di BEC pare kediri. dan setelah disana aku tambah bingung. ini tempatnya benar-benar beda. jauh dari yang aku bayangkan. dalam benakku, lingkungn di BEC itu serba wah, dan ternyata sangat sederhana. bahkan tempatnya pun bukan di tengah-tengah kota metropolitan ,melainkan di sebuah desa yang menurutku tidak jauh beda suasananya dengan desaku.
Setelah daftar di kantor BEC, yang pada waktu itu daftar biayanya 125 ribu, kalo tidak salah. waktu sudah hampir maghrib, dan sepertinya tidak mungkin aku dan temanku pulang dengan berkendara sepeda. takut ada apa-apa dijalan, akhirnya aku dan temanku ini mampir di tempat kost teman-teman yang dulunya satu pesantren dengan kami di Hidayatul Mubtadi'ien Asrama Putra Sunan Gunung Jati. setiba di tempat kost, inilah hal yang membuatku terpana. semuanya berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris. dan semuanya membicarakan program-program yang ada hubungannya dengan bahasa inggris. pada waktu itu, aku masih nol dalam ilmu bahasa inggris. sehingga hal itu menjadi sesuatu sekali dalam hatiku.
tak lupa, ketika temanku datang mereka menyambut dengan hangat, mereka sudah tahu betul denganku. karena ketika di pesantren, aku termasuk anak yang rajin kendati tak pandai. minimal lah aku pernah hafal yang namanya nadzom ngudi susilo, hidayatus sibyan, mathlab, tukhfatul athfal, qowaidus shorfiyah juz 1 (80 nadzom), qowaidus shorfiyah jus 2 (150 nadzom), imrithi semuanya, dan alfiyah ibnu malik 1000 nadzom aku hafal. dan juga hampir setiap ujian semester aku mendapat juara, kendati belum pernah juara satu. hehehe.
teman-teman yang dulunya satu pesantren denganku, mereka menyambutku dengan baik, membelikan nasi dan lain-lain dengan tujuan hormat atas kedatanganku. namun aku yang malah akhirnya malu, sebab kendati dulu mereka sama-sama belajar denganku, mereka sekarang beda. mereka bisa bicara bahasa inggris dengan lancar, sedangkan aku, masih culun , nol tak tau apa-apa tentang ilmu bahasa inggris
dan delapan bulan kemudian....
Aku berangkat dikirim ke pesantren Ma'rifatul Ulum Ngawi Jawa Timur. dengan tujuan untuk menjadi Tutor / Guru Bahasa Inggris di pesantren tersebut selama satu bulan. banyak sekali ilmu yang aku dapatkan dari sana. namun untuk kisah ini, aku hanya menceritakan sebagaian, yang sebagian nanti akan aku ceritakan di waktu yang lain.
Kisah yang aku rasakan adalah aku kenal dengan seorang gadis Macan (Manis dan Cantik), senyumnya luar biasa indahnya. ingin rasanya selalu bersamanya sepanjang waktu.